TBU, Podcast Cethik Geni Perbedaan Peran Pers dan Medsos

Jumat, 28 Mei 2021  21:54

TBU, Podcast Cethik Geni Perbedaan Peran Pers dan Medsos
PortallTuban/ TUBAN - Kegiatan Podcast yang dipandu oleh tiga host antara lain Novi Yudhanegara, Pito Soewarsono dan Rara Langit, kali ini mengundang seorang tokoh Jurnalis senior Teguh Budi Utomo (TBU) dikantor Cethik Geni Jl. Panglima Sudirman no. 10 Tuban, Kamis (27/5/2021) malam.

 

Mengusung tema "Pers versus Medsos" acara dimulai dengan memberikan narasumber dua pilihan pertanyaan yang harus dijawab salah satu secara cepat atau disebut "pantik api screening" yang diajukan oleh host Rara Langit.

 

Melanjutkan perbincangan, sebelum memasuki pokok pembahasan, TBU mengawali dengan menceritakan awal mula dirinya menjalani profesi sebagai seorang jurnalis di era Orde Baru, masa reformasi hingga sekarang.

 

"Profesi ini adalah pilihan, saya memulai menjadi jurnalis sejak tahun 1990, jadi saya merasakan pada masa orde baru pers, pelakonnya, kebijakannya serta pemerintahan kala itu seperti apa," ujarnya.

 

Lalu TBU dengan rinci menjawab pertanyaan dari host Novi Yudhanegara tentang peristiwa yang berkesan, menarik ataupun menegangkan selama menjalani profesi menjadi seorang wartawan ini dengan santai.

 

"Pada masa orde baru, pers diawasi oleh pemerintah melalui departemen penerangan, sebab waktu itu belum ada kebebasan pers," ucapnya.

 

TBU mengatakan, kala itu timbul ketegangan antara pers dan pemerintah yang kebijakannya mengontrol pers agar tidak menulis berita yang sifatnya merugikan, mendiskreditkan pemerintah sedangkan seorang jurnalis mempunyai beban moral kepada publik.

 

"Bahkan ada pelarangan penguatan berita tertentu yang dipandang bisa membikin ketidaknyamanan pemerintah, sekaligus dinilai akan memunculkan ketidakseimbangan dan kegaduhan dimasyarakat menurut parameter mereka (pemerintah)," bebernya.

 

Selanjutnya TBU menjelaskan bahwa setiap pemberitaan dari insan pers selalu mengusung prinsip-prinsip jurnalistik saat turun kelapangan untuk melakukan penggalian informasi ataupun investigasi.

 

"Bagi seorang jurnalis, informasi hanya pijakan awal untuk memulai kinerja jurnalisme, sehingga berbeda dengan medsos," kata TBU.

 

Menanggapi penggambaran host Novi mengenai kalahnya pers dengan medsos tentang kecepatan dalam menyampaikan informasi ke publik, Teguh merasa hal tersebut merupakan hanya perbedaan sudut pandang saja.

 

"Bagi orang yang mengenal pers, ini bukan sebuah peperangan namun hanya pilihan," jelasnya.

 

Pria asal Rengel Kabupaten Tuban ini menjabarkan, bahwa media sosial hanya lebih dahulu memunculkan informasi kepada publik namun bukanlah sebuah hasil produk berita.

 

"Ini realita kemajuan teknologi informasi, tapi publik juga punya hak untuk mendapatkan informasi yang benar, sudah terverifikasi, validasinya bisa dipertanggungjawabkan sesuai kinerja pers," terangnya.

 

Dalam penjelasannya TBU mencontohkan ketika ada informasi di medsos yang mencantumkan sebuah kejadian beserta fotonya, namun yang terjadi bahwa hasil dokumentasi yang diunggah tersebut merupakan kejadian yang sudah lama berlalu namun diberi penanggalan yang baru.

 

"Di medsos tidak ada pertanggung jawaban, bilamana informasi tersebut tidak digugat dan dituntut secara hukum oleh seseorang," ungkapnya.

 

Sedangkan pada pers, menurut Teguh, munculnya informasi yang dimunculkan dalam bentuk berita bisa dipertanggungjawabkan, karena ada beberapa hal yang menjadi kewajiban bagi insan media, yaitu melakukan verifikasi terhadap informasi, lalu kroscek data, kroscek dilapangkan dan menggunakan narasumber.

 

"Narasumber adalah orang yang dekat dengan peristiwa termasuk pelaku, orang yang memiliki kompetensi terhadap kejadian," jelasnya.

 

Mengenai sudut pandang kalahnya pers dengan media sosial dalam kecepatan penyampaian informasi awal ke publik, TBU menerangkan bahwa pada media mainstream, produk insan pers telah mencukupi etika jurnalistik.

 

"Semua pemberitaan media mainstream tetap menggunakan verifikasi dan temuan di lapangan, tanpa itu tidak layak disebut berita," tegasnya.

 

Sehingga TBU mengamini bahwa tetap lebih cepat medsos untuk menyampaikan informasi awal ke publik, karena siapapun bisa melakukannya, walaupun penggunaan medsos memiliki regulasi-regulasi yang harus ditaati.

 

"Ini yang sering terlupakan karena emosional, euforia menikmati kebebasan berekspresi sehingga publik bebas mengungah apapun ke medsos," sambungnya.

 

Sedangkan TBU menjelaskan bahwa etika jurnalisme tidak menyarankan atau membolehkan terlalu mendramatisir atau menyebarkan karya gambar atau foto yang tidak pantas untuk di sampaikan ke publik.

 

"Sehingga ada perbedaan perspektif antara sudut pandang mana yang lebih cepat menyampaikan informasi," sebutnya.

 

Menjelang akhir perbincangan TBU menjelaskan bahwa ada Netizen Jurnalis atau jurnalis warga masyarakat dan jurnalis milik media massa yang berbadan hukum, sehingga siapapun bisa mengekspos sebuah kejadian karena ada undang-undang yang menjamin kebebasan berpendapat, menyampaikan fikiran ataupun temuan.

 

"Namun ada undang-undang ITE nomor 19 tahun 2016 yang mengatur kebebasan tersebut," jelas pria ramah ini.

 

Lebih lanjut TBU mengatakan, manakala ada pelaku media sosial, mengunggah sebuah peristiwa yang ternyata menyudutkan dan mencemarkan nama baik orang lain bisa terkena undang-undang ITE ini, hal berbeda terjadi kepada pers melakukan kekeliruan dalam pembahasan penulisan media ada hak-hak, koridor-koridor dan tahapan yang harus dilalui oleh orang minta hak koreksi, hak jawab.

 

"Ini yang membedakan antara medsos dan media massa," imbuhnya.

 

Ketika disinggung mengenai pendidikan jurnalisme ke masyarakat, TBU menerangkan bahwa jika publik mengalami keterbatasan informasi tentang pers atau jurnalisme, seringkali menganggap bahwa apapun yang diunggah ke media sosial adalah sebuah produk berita.

 

"Sebenarnya organisasi pers seperti PWI, AJI, IJTI, RPS sudah berupaya melakukan edukasi dengan melakukan pelatihan jurnalistik," pungkasnya

BERITA LAINNYA


TERKINI

SELENGKAPNYA

INI TUBAN

Indeks Berita