Sebagai Pusat Unggulan IPTEK, Puslitbang Kembangkan Tanaman Biomasa

Kamis, 30 Mei 2019  08:35

Sebagai Pusat Unggulan IPTEK, Puslitbang Kembangkan Tanaman Biomasa

Kapuslitbang Hutan Yahya Amin Yahya Amin menunjukkan hasil penelitian Puslibang di teman awak media.

Portaltuban.com/BOJONEGORO - Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Hutan (Kapuslitbang) Yahya Amin menyampaikan bahwa sekarang ini Puslitbang Perhutani merupakan salah satu lembaga pemerintah yang bergerak sebagai perusahaan negara (BUMN) dan yang memiliki sebagai pusat unggulan teknologi pengembangan tanaman jati di Indonesia.

 

“Pernyataan itu beberapa waktu lalu di Jakarta melalui Kemenristek DIKTI dalam rangka hilirasi Produk Kayu Jati Plus (JPP) di Jakarta. Maka ini saya sampaikan kepada teman-teman media soal perkembangan soal apa yang sudah kami capai sekarang ini,” paparnya dalam kegiatan Press Conference di Aula ruang rapat Gedung Puslibang Perhutani, Jalan  Wonosari, No. 06, Brangkal, Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu, (29/05/2019).

 

Kegiatan yang diawali dengan pemaparan langsung oleh Kapuslibang ini, dalam sambutannya diawali menyampaikan tentang struktur organisasi di tubuh pengelolaan perhutani seperti apa. Lalu tentang visi dan misi perhutani, area pusat unggulan ipteknya, kemudian soal sinergi kerjasamanya dengan warga sekitar kantor dan lapangan.

 

Hari itu juga Yahya sampaikan bagaimana perkembangan kegiatan penelitian-penelitian yang telah berhasil kami lakukan. Terutama hasil capaian kami seperti apa. Selanjutnya juga kami tunjukkan melalui petugas di sini soal materi Unggul dan Benih Jatinya. Kemudian juga dengan petugas dilapangan ditunjukkan lokasi hasil uji coba produksi dan kualitas kayu JPP dan uji coba Prototipe JPP.

 

“Selama ini Puslitbang telah mendapat pembinaan dari dan menjadi bagian PUI dari Kemenristek Dikti yang fokus unggulan lembaga yaitu menjadikan pusat penelitian Jati di Indonesia,” akunya.

 

Berdasarkan data di kantor ini menyebutkan bahwa lembaga ini telah berhasil mengembangkan penemuannya di luasan hutan jati di nusantara ini seluas 1,2 juta Ha. Ada juga area Kebun Benih Klonal (KBK) Jati luasnya 1.300 Ha. Mereka juga memiliki lokasi Arboretum Jati yang terdiri dari 32 jenis varietas. Ada juga lokasi tanaman Jati 55 jenis.

 

“Kami juga telah dilengkapi Labotorium Biosel, dan Labotorium Genetika Molekuler, Labotorium Benih. Pembinaan SDMnya diketahui media ini melalui pimpinannya ini dilakukan secara kelembagaan dengan tujuan meningkatkan kinerja lembaga Litbang. Fokusnya adalah penguatan, yaitu  Sourcing Absorptive Capacity, Research And Development Capacity dan Disseminating Capacity,” jelas Yahya Amin (YA).

 

Soal perkembangan penelitian jatinya, Pak YA pangilan akrabnya di lingkup perhutani menjelaskan bahwa memiliki materi unggul dan sumber benih jati plus perhutani (JPP). Yaitu dengan materi dasar sebanyak 600 pohon plus dari jawa dan luar jawa. Bahkan Puslit tersebut telah menemukan klon unggul PHT I dan II. Ini juga telah bersertifikat  PVT dengan  memiliki 8 kandidat klon unggulan. Lokasinya telah berhasil ditanam seluas 200 ribu hektar dan tersebar di banyak pengelolaan tingkat KPH (kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan).

 

“Untuk kebun pangkasnya kami sebarkan PHT I dan II di 35 ha di 25 KPH. Sedangkan KBK (Kebun Benih Klonal) Jati bersertifikat ada sebanyak 1.300 Ha di tiga lokasi dengan potensi produksi 20 ton/tahun,” ungkapnya.

 

Apa yang sampaikan YA ini bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data yang ada hasil uji coba produksi kayu JPPnya pada produksi umur 13 tahun di KPH Ngawi dengan diameter 46 cm dengan ketinggian 27 meter, volumenya 183 m3/ha.

 

“Dalam uji coba prototipe JPP, Puslibang telah bekerjasama dengan P3HH, PT KTI, UGM, IPB, dan PT NET dengan hasil produksi setengah jadi JPP yaitu kayunya dapat dibuat menjadi Wood Working dalam bentuk FJLB, solid flooring dan LVL. Puslitbang juga telah berhasil mempercontohkan hasil penelitiannya kalau kayu JPP ini lebih tepat dimanfaatkan untuk garden furniture, bisa juga untuk interior,” paparnya.

 

Usai berbuka puasa orang asli Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang berdomisili di Kabupaten Ngawi Jawa Timur ini menegaskan bahwa limbah kayu JPP ini bisa lebih tepat digunakan untuk Biomassa (Wood Planet). [Pito]

 

 

 

BERITA LAINNYA


TERKINI

SELENGKAPNYA

INI TUBAN

Indeks Berita